Tuesday, March 13, 2018

Dukungan Media Kepada Partai Politik Pada Tahun Politik

Dukungan Media Kepada Partai Politik Pada Tahun Politik
 
Konglomerasi media akan sangat berbahaya, jika telah berbaur dengan dunia politik. Di indonesia saat ini bahaya itu sedang mengancam, dengan saling dukung dan saling pukul antara pemilik media, karena menjadi aktor di belakang layar tahun politik 2018-2019. Masyarakat harus tahu bagaimana media tidak selalu menginformasikan berita yang berimbang. Aneka kepentingan di dalamnya kadang membuat berita yang seharusnya berisi fakta menjadi berita yang hanya opini belaka. Masyarakat harus jeli dan jangan sampai tertipu. Masih adanya proses agenda setting dan framing yang dilakukan oleh media yang disesuaikan dengan kepentingan pemilknya. Kebenaran yang tidak didapatkan masyarakat tersebut dapat menyebabkan masyarakat terhegemoni dengan menerima kebenaran versi media massa.
Kita analisa secara sederhana,
  1. Kedekatan Chaerul Tanjung dengan megawati mengindikasikan gerbong yang dibekangnya  Trans7, Trans TV dan detik.com berada pada payung bisnis yang sama yakni Trans Corp Mendukung PDIP
  2. Pernyataan Hary Tanoesoedibyo yang dukung Prabowo, memastikan Global TV, RCTI, TPI bergabung dalam Group MNC, Sindo TV, MNC TV, Koran Sindo, Trust, MNC Radio pasti dukung Perindo
  3. Abu Rizal bakrie juga dukung prabowo, TV One dan ANTV bernaung di bawah bendera Bakrie Group pasti dukung Golongan Karya
  4. SCTV dan Indosiar  yang sebahagian besar sahamnya dimiliki oleh Eddy Sariatmadja ini dukung siapa ya ? abu-abu
  5. Metro TV dan media Indonesia dengan bergabungnya  Surya Paloh (nasdem ke PDIP) Jelas akan dukung jelas NAsdem dan PDIP
  6. Kemudian ada Kelompok Jawa Pos, pemiliki koran Jawa Pos dan Rakyat Merdeka. Jaringannya di daerah-daerah juga cukup kuat, dengan merek Radar. Kelompok media ini didirikan dan dimiliki oleh PT Grafiti Pers, yang juga pendiri Tempo, setelah diambil-alih dari pemilik sebelumnya.Kelompok Jawa Pos yang dikelola dan dibesarkan oleh Dahlan Iskan, kini belum tahu menentukan ke pada siapa
Tentu saja kita harus selalu berhati-hati, karena media juga punya kepentingan, tidak selalu netral seperti yang kita bayangkan.  Pesannya selalu gunakan logika dan hati nurani, jangan tergesa-gesa menyimpulkan pemberitaan suatu media, tenang dan cari referensi lain. Bisa saja benar atau malah menyesatkan. 
 

Konglomerasi Media Rupert Murdoch

Konglomerasi Media Rupert Murdoch


Konglomerasi Media adalah penggabungan perusahaan media menjadi perusahaan yang lebih besar yang membawahi banyak media. Konglomerasi ini dilakukan dengan melakukan korporasi dengan perusahaan media lain yang dianggap mempunyai visi yang  sama. Pembentukan konglomerasi ini dengan cara kepemilikan saham, joint venture / merger, atau pendirian kartel komunikasi dalam skala besar baik intergrasi vertikal, intergasi horisontal maupun kepemilikan silang. Akibatnya kepemilikan media yang berpusat pada segelintir orang.

Bicaramengenai konglomerasi media, di era gobalisasi sekarang,kurang pas kalo kita belum kenal Rupert Murdoch salah satu penguasa media terbesar dan memiliki andil yang kuat untuk dunia terutama pada medi televisi,dia merupakan,pemilik media yang paling berpengaruh saat ini yaitu;news corporation
Murdoch merupakan pribadi yang optimis dan ambisius dalam menjalakan tujuanya,dia tidak pernah mau kalah berasaing dalam menjalankan bisnisnya.itu patut kita contoh untuk mengaplikasikanya dalam mencapai suatu tujuan yang di inginkan.Rupert Murdoch lahir di Melbourne, 11 Maret 1931 australia,dengan nama lengkap Keith Rupert Murdoch. Ia merupakan anak dari pasangan Sir Keith Murdoch dan Elisabeth Greene, kedua orangtuanya juga dilahirkan di Melbourne. Mereka menikah pada tahun 1928, Pasangan ini memiliki 4 orang anak,3 orang putri an 1 orang putra. Rupert Murdoch merupakan anak lelaki satu-satunya dari pasangan tersebut. Rupert Murdoch telah menikah sebanyak 3 kali, namun semua pernikahan itu telah berujung pada perceraian. Istrinya yang terakhir adalah adalah Wendi Deng yang berasal dari China. Mereka bercerai setelah hidup dalam perkawinan selama 14 tahun. Murdoch menikahi Wendi yang 38 tahun lebih muda pada tahun 1999 setelah menceraikan istri keduanya, Anna, yang dinikahinya selama 32 tahun.
 Walaupun Terkenal dan sangat berpengaruh bagi dunia,banyak yang membenci Rupert murdoch Dikarenakan,Ada banyak bukti bahwa ideologi Rupert Murdoch adalah profit dan pertumbuhan finansial saja,Banyak cerita tentang bagaimana Murdoch menolak suatu isi berita atau mendukung isi berita demi keuntungannya sendiri. Ini terbukti dalam sebuah pidato ia mengatakan ;teknologi komunikasi yang maju akan mengancam rezim totalitarian (pernyataan ini kurang lebih terbukti dengan revolusi mesir 2011 yang dimulai di facebook), dia kaget ketika pernyataannya tersebut membuat pemerintah Cina berang, padahal dia tidak bermaksud menyinggung Cina. Cina lalu mengancam akan memutuskan transmisi StarTV ke Cina. Agar profit StarTV tak anjlok, Murdoch segera memerintahkan perusahaan penerbitnya untuk menerbitkan buku karangan  putri Deng Xiaoping. Dia juga membatalkan penerbitan buku yang dianggap akan menyinggung pemerintah Cina. Setelah mengetahui bahwa pemerintah Cina tidak senang dengan berita independen yang dilaporkan melalui BBC World Service,Murdoch segera menghilangkan BBC dari acara StarTV untuk Cina. Hasilnya? Beberapa franchise media Murdoch di Cina berhasil diselamatkan.
Dan di tahun 2005,Murdoch memasuki bisnis online dengan mengakusisi My-Space.com- sebuah situs jaringan dengan harga 587 juta dolar.Pada saat yang sama ia juga mengakusisi situs internet lokal maupun internasional. Lewat tangan dinginnya, setahun setelah, My-Space di akuisisi asetnya meningkat lima kali lipat menjadi tiga miliar dolar (Ishadi, 2005, Tempo, 25 September 2005). Saat ini My-Space merupakan salah sate situs paling populer di Amerika Serikat, selain Yahoo!, Google, MSN dan Ebay. Langkah Murdoch tidak salah karena My-Space yang didirikan oleh dua anak muda Tom Andersen dan Christ De Wolfe tiga tahun lalu merupakan situs yang sedang melejit,di karenakan banyak musisi muda yang mengekspresikan dan mempromosikan musiknya pada situs myspace ini,dengan pengaplikasian yang mudah dan murah.
Keluarga Murdoch menguasai 30 persen saham News Corp senilai $12 miliar pada 2003. Dinasti Murdoch dimulai dengan koran Australia yang didirikan oleh ayah Murdoch yang mewariskan bisnisnya kepada putranya pada tahun 1925. Murdoch mulai mengakuisisi beberapa koran Inggris dan kemudian beberapa koran Amerika. Dia membeli perusahaan penerbit Harper & Row, yang kemudian disesuaikan dengan kepentingan penerbitannya di Inggris. Agar bisa memiliki stasiun TV di AS, dia menjadi warganegara AS. Pada tahun 1980-an, Murdoch mendirikan Fox sebagai jaringan televisi AS yang keempat. Dia lalu menguasai studio film dan televisi 20th Century Fox. Dia membeli perusahaan induk TV Guide. Dia juga mendirikan televisi satelit Sky dan StarTV di Inggris dan Asia. Saat ini lebih dari 3 miliar orang menonton siaran StarTV yang menampilkan program acara yang dibuat atau dibeli oleh perusahaan Murdoch. Pada 2003 dia menguasai DirectTV, televisi satelit utama di AS.
Konglomerat media Rupert Murdoch telah menutup salah satu koran miliknya, News of the World pasca skandal penyadapan telepon selebritis, keluarga kerajaan Inggris, keluarga korban perang dan ponsel milik korban pembunuhan.
Penyelidikan masih berlangsung, selain juga penyelidikan atas dugaan bahwa tabloid itu menyuap polisi untuk mendapat informasi.
Tetapi kerajaan media News Corporation milik Rupert Murdoch masih memiliki jaringan global, dengan pendapatan lebih dari US$31 miliar (Rp264,9 triliun) per tahun.
Kenyataan ini dan skandal penyadapan telepon membuat banyak pihak di Inggris khawatir akan pengaruh Rupert Murdoch dalam politik negeri itu lewat media miliknya.
Partai-partai utama Inggris yang berseberangan bersatu untuk mengeluarkan mosi yang mendesak Rupert Murdoch dan News Corporation untuk menghentikan upayanya mengakuisisi penuh perusahaan televisi satelit InggrisBSkyB, sampai penyelidikan atas skandal penyadapan telepon media milik Murdoch selesai.
Berikut sebagian media milik Rupert Murdoch di seluruh dunia.
Australia dan Selandia Baru
News Corp memiliki 44% saham Sky Network di Australia - negara kelahiran Murdoch - Selandia Baru, dan sedang dalam proses penawaran untuk membeli televisi internasional milik pemerintah Australia yang sekarang dioperasikan oleh ABC.
News Corp juga pemilik 150 surat kabar lokal dan nasional di Australia, termasuk the Australian, the Telegraph dan the Herald Sun. Selain itu, News Corp memiliki 50% saham Premier Media Group, yang mengoerasikan sembilan stasiun televisi Fox TV di Australia.
Asia
Di bawah nama Star, News Corp memiliki sembilan stasiun televisi kabel di seluruh Asia dan memegang saham besar di delapan stasiun televisi lainnya.
Star juga memiliki 20% saham saluran televisi Tata Sky di India.
News Corp adalah pemilik saham mayoritas surat kabar Post Courier di Papua Nugini dan surat kabar Wall Street Journal Asia.
Eropa
Hak atas foto AFP Image caption Demonstran bertopeng Murdoch di London menggambarkan PM Cameron sebagai bonekanya
News Corp memiliki 39% saham perusahaan televisi satelit BSkyB tetapi Murdoch sedang berupaya membeli seluruh saham perusahaan itu.
Tabloid News of the World merupakan surat kabar mingguan terbsar di Inggris dengan sirkulasi tiga juta eksemplar per minggu. Setelah ditutup, Murdoch masih memiliki tiga surat kabar nasional Inggris, the Times, Sunday Times dan the Sun.
Di Italia, News Corp memiliki televisi Sky Italia dan di Jerman perusahaan itu memiliki 45% saham Sky Deutschland.
Afrika dan Timur Tengah
News Corp memegang 9% saham di jaringan Rotana, yang mencakup berbagai stasiun televisi di Timur Tengah dan Afrika Utara.
Amerika Latin
News Corp memiliki saham besar di tiga televisi di kawasan Amerika Latin - LAPTV, Telecine dan Fox Telecolombia.
Amerika Serikat dan Kanada
News Corp memiliki sejumlah surat kabar besar Amerika, termasuk Wall Street Journal, the New York Post dan Community Newspaper Group dan sejumlah koran bisnis termasuk Barons dan MarketWatch.
Perusahaan itu juga memiliki tujuh perusahaan informasi berita.
Hak atas foto Getty Image caption News Corp menguasai beragam media di seluruh dunia
News Corp memiliki saham besar dalam industri televisi Amerika lewat jaringan televisi Fox dan National Geographic.
Perusahaan itu memiliki 27 stasiun lokal televisi Fox dan Murdoch pernah menyebut langkah televisi Fox News miliknya "tidak bisa dihentikan".
Sepuluh perusahaan film milik News Corp - termasuk 20th Century Fox dan Fox Searchlight Pictures - juga bermarkas di Amerika.
News Corp juga memiliki sepertiga saham layanan sewa film online Hulu.
Internasional
News Corp adalah pemilik perusahaan penerbitan HarperCollins di Amerika, Kanada, Eropa, Selandia Baru dan Australia, dan pemilik sebagian saham HarperCollins Asia.
Selain itu, News Corp juga pemilik penuh atau pemilik sebagian saham beragam perusahaan pemasaran dan media digital. Murdoch baru-baru ini menjual sebagian besar sahamnya di jejaring sosial MySpace.
Jaringan televisi Fox dan National Geographic juga memiliki jangkauan global lewat beragam saluran televisi berita dan hiburan.



  Inilah beberapa Media Massa yang dikuasai oleh Si Raja Media Ruppert Murdoch.
  1. News Limited (Australia)
  2. The Sun (inggris)
  3. The News World (Inggris)
  4. Sky Television (Inggris)
  5. San Antonio Express News (Amerika)
  6. Supermarket Star (Amerika)
  7. New York Post (Amerika)
  8. 20th Century Fox (Amerika)
  9. Metro Media (Amerika)
  10. Star TV (Asia)
  11. My Space (Amerika)



Pemilik Media di Indonesia


Kenali Konglomerasi media
Kenali siapa yang menguasai media

Pasca lengsernya Soeharto pada tahun 1998, perkembangan demokratisasi di Indonesia menunjukkan trend positif dalam segala bidang, tidak terkecuali media massa. Media massa yang dimaksud adalah televisi, radio, surat kabar/majalah (media massa cetak) dan dan media online. Menurut data yang dirilis oleh Merlyna Lim, peneliti Indonesia yang tinggal di Amerika serikat pada tahun 2012, menyebutkan bahwa pada tahun 1998 sampai 2012 terhitung ada 1200 media cetak baru bermunculan dan lebih dari 900 radio komersil (lebih banyak berlokasi di Jakarta) serta 5 stasiun televisi baru.

Pertanyaannya adalah media yang banyak itu adalah punya siapa? Pertanyaan ini penting bagi kita untuk memberikan sebuah gambaran ke mana arah sebuah arus pemberitaan selama ini. Apakah berimbang ataukah cenderung berbaur dengan kepentingan bisnis atau bahkan sudah bercampur dengan oleh kepentingan politik?. Menurut Merlina Lim, dalam penelitiannya yang dipublish pada tahun 2012, media massa di Indonesia dikuasai oleh 13 Grup saja. Satu diantaranya dikuasai oleh Negara. Selebihnya milik konglomerasi (Gabungan Konglomerat). 12 grup ini telah menguasai dan mengontrol 100 % bisnis jasa (komersialiasi) pertelevisian di Tanah air. Mereka menguasai 5 dari 6 surat kabar dengan tiras/oplah terbesar. 4 Grup yang menguasai media online terpopuler. Juga radio yang dominan berada di Jakarta. Selain itu, mereka menguasai bisnis TV Digital (berbayar) dan bisnis lainnya seperti telekomunikasi, Teknologi Informasi dan layanan produksi, distribusi berbagai konten media marketing lainnya.

Perusahaan media (grup 13) ini, juga melebarkan sayapnya dalam di Industri Non-Media yang membuat mereka seperti gurita yang memiliki kontrol bisnis dan politik yang luas di Indonesia. Diantara grup ini, ada pemain lama seperti Kompas Gramedia dan Jawa Pos. mereka pernah menjadi sasaran politik orde baru waktu itu. Kenyataan yang tidak bisa dipungkiri adalah beberapa media tersebut terkait secara langsung atau tidak langsung dengan Lingkaran politik. Sebut saja diantaranya Media Group pimpinan Surya Paloh (dahulu sebagai penasehat Partai Golkar dan sekarang menjadi Penasehat Partai Nasdem). Kemudian ada Bakrie & Brothers (TV One dan AN TV) milik Abu Rizal Bakrie (ketua Umum Partai Golkar).
Fakta lainnya, ada satu Grup, yang meskipun secara tidak langsung terkait dengan politik namun salah satu tokohnya, Theo L. Sambuaga, Tokoh Golkar memiliki jabatan penting sebagai Presiden di Grup Lippo. Perusahan milik James Riady ini juga ikut meramaikan bisnis Media di Indonesia.
Selain itu, pemain lainnya adalah Trans Corporation (Trans TV dan Trans 7) milik Chairul Tanjung yang dikenal dekat dengan penasehat partai Demokrat Susilo Bambang Yudoyono. Meskipun kita tahu, CT (panggilan Chairul Tanjung) tidak berafiliasi langsung dengan partai Politik tertentu). Sosok lainnya, Hary Tanoesoedibyo pemilik MNC Group (RCTI, MNC TV, Global TV) sekarang membuat kendaraan politik sendiri yang bernama Partai Perindo. Sebelumnya, Hary bergabung dengan Partai Hanura, partai yang didirikan oleh Wiranto. Yang menarik adalah Grup Tempo (Majalah dan surat Kabar) yang didirikan oleh Gunawan Muhammad. Tempo, adalah satu-satunya media Non Konglomerasi yang mampu bertahan dalam persaingan ketat dalam bisnis media mainstream di Indonesia. Tempo juga sejauh ini independent dalam politik.
Dengan kondisi yang digambarkan di atas, masyarakat Indonesia akan dihadapkan kenyataan pada kualitas pemberitaan yang diekspos oleh hanya beberapa atau segelintir pemilik modal dan yang beberapa diantaranya memiliki latar belakang politik. Benturan kepentingan bisa saja terjadi. Dalam ilmu komunikasi massa, salah satu hambatan dalam komunikasi massa adalah adanya interest (kepentingan). Hambatan ini bisa mengakibatkan Masyarakat sebagai komunikan tidak memperoleh kualitas informasi yang utuh dan memadai. Kondisi seperti ini juga memunculkan Konglomerasi Media dan membuat masyarakat hanya menerima beriya yang homogen dan terjebak dalam hiperrealitas media.

Bagaimana peta Media Online di Indonesia? Internet sudah menjadi bagian penting dalam masyarakat Indonesia. Salah satunya adalah web. Website kini menjadi sumber informasi terbesar yang menjadi rujukan sebagian besar masyarakat dewasa ini. Website banyak dimiliki oleh orang per orang, berbeda dengan media massa lainnya. kepemilikannya tidak terkonsentrasi pada satu grup semata, tapi merata. Meskipun begitu, ada beberapa website berita yang dikuasai oleh Grup 13 tadi. Fakta menarik, Kaskus (forum komunitas Indonesia) masuk 6 besar dari 10 website yang paling sering dikunjungi di Indonesia. Selain Facebook dan Google. Detik masih menjadi pilihan utama akses informasi masyakat Indonesia. Kemudian berturut-turut di bawahnya kompas.com, vivanews.com, okenews.com dan lintas berita.com. Blog sudah menjadi penyeimbang informasi dari media mainstream meskipun belum signifikan, Blog yang sudah punya nama antara lain Ndorokakung.com, Akhdian.com, Isnuansa.com,Bloggombal.com, Jimnysun.com, nazieb.com dan radityaadika.com.

Berikut Data yang dipublish tahun 2012 oleh Merlyna Lim dalam Jurnal penelitianya berjudul The League of Thirteen, Media Concentration in Indonesia.

Media Nusantara Citra (MNC) 
Group (Hary Tanoesoedibjo)

  1.          RCTI, Global TV, MNCTV (ex TPI)
  2.          Indovision, Sky Vision, SINDO tv network
  3.          Sindo Radio (Trijaya FM), Radio Dangdut, ARH Global Radio
  4.          Seputar Indonesia (Koran Sindo)
  5.          High End magz, Genie, Mom & Kiddie tabloids
  6.          okezone.com, seputar Indonesia.com, Sindonews.com
  7.           IT, content production and distributions, talent management, automobile


Mahaka Media Group 
(Erick Tohir)
1.      Jak TV, Alif TV
2.      JakFM, Prambors FM, Delta FM, Female, Gen FM
3.   Republika, Harian Indonesia (in Mandarin) Parents Indonesia, A+, GolfDigest, Area, magazines
4.      Republika Online,rileks.com,Rajakarcis.com, Entertainment, outdoor advertisement

 

Kompas Gramedia Group (Jakob Oetama,Agung Adiprasetyo)

  1. Kompas TV network
  2. Sonora Radio network, Otomotion Radio, Motion FM, Eltira
  3.  FM Kompas, 
  4. Jakarta Post,
  5. Warta Kota, 
  6. + other 11 local papersIntisari + 43 magazines &tabloids, 5 book publishers Kompas Cyber Media, Hotels, public relation agencies, university & telecommunication tower (in plan)

Jawa Pos Group (Dahlan Iskan)
1.      JPMC network Fajar FM (Makassar)
2.      Jawa Pos, Indo Pos
3.      Rakyat Merdeka, Radar + others (total: 151)Mentari, Libertymagazines + 11 tabloids
4.      Jawa Pos Digital Edition
5.      Travel bureau, power plant

Media Bali Post Group (KMB) (Satria Narada)

  1.          Bali TV network, Jogja TV,Semarang TV,Sriwijaya TV, +others (total: 9)
  2.          Global Kini Jani, GentaFM. Global FM,Lombok FM, Fajar FM,
  3.          Suara Besakih, Singaraja FM, Nagara FM
  4.         Bali Post, Bisnis Bali, Suluh Indonesia, Harian Denpost, & Suara NTB Tokoh, Lintang, & Wiyata      Mandala tabloids
  5.          Bali Post, Bisnis Bali

Elang Mahkota Teknologi (EMTEK) Group (Eddy Kusnadi Sariaatmadja)

  1.         SCTV
  2.         Indosiar, O’Channel,
  3.        ElShinta TV, 
  4.   Elshinta FM —Elshinta, Gaul, Story, Kort, Mamamia,Wireless broadband, pay‐TV, telecommunications, banking, IT solutions, production house


      Lippo Group (James Riady)

  1.         First Media, Berita Satu TV
  2.       Jakarta Globe, Investor Daily, Suara Pembaruan Investor, Globe Asia, &Campus Asia magazines Jakarta Globe Online Property, hospital, education, insurance

    Bakrie & Brothers (Visi Media Asia) (Anindya Bakrie)

  1.         antv, TVOne Channel [V] — — — VIVAnews
  2.         Telecommunications, property, metal, oil & gas, agribusiness, coal, physical infrastructure

Femina Group (Pia Alisyahbana,Mirta Kartohadiprodjo)
1.      U‐FM Jakarta & Bandung
2.      Femina, Gadis, Dewi, Ayahbunda + others (total:15) FeminaGitaCinta, Ayahbunda,Gadis, Parenting Online Production house, event management, boutique, education, printing


Media Group (Surya Paloh)

  1.           Metro TV
  2.          Media Indonesia,
  3.         Lampung Post, BorneoNews
  4.         Media Indonesia Online

Mugi Reka Abadi (MRA) Group (Dian Muljani Soedarjo)

  1.         O’Channel
  2.         Cosmopolitan FM, Hard Rock FM, IRadio, Trax FM
  3.        Cosmopolitan, Cosmogirl, Fitness + others (total: 16) Holder of several international boutique brands

Trans Corpora (Para Group) (Chairul Tanjung)

  1.          Trans TV
  2.         Trans 7
  3.          Detik Online,
  4.          Banking, venture capital, insurance, theme parks, resort, retail, cinema

Yang menjadi catatan adalah, penelitian ini dilaksanakan pada tahun 2012. Sekarang sudah tahun 2015, pasti akan perubahan dan perlu penelitian lanjutan. Meskipun begitu, penelitian yang di lakukan oleh Merlyna Lim patut diapreseasi karena memberikan sebuah landasan sudut pandang bagi masyarakat umum atau bahkan pengambil kebijakan di negeri ini.



Monday, May 23, 2016

siapa yang menguasi media

Kenali Konglomerasi media
Kenali siapa yang menguasai media
Pasca lengsernya Soeharto pada tahun 1998, perkembangan demokratisasi di Indonesia menunjukkan trend positif dalam segala bidang, tidak terkecuali media massa. Media massa yang dimaksud adalah televisi, radio, surat kabar/majalah (media massa cetak) dan dan media online. Menurut data yang dirilis oleh Merlyna Lim, peneliti Indonesia yang tinggal di Amerika serikat pada tahun 2012, menyebutkan bahwa pada tahun 1998 sampai 2012 terhitung ada 1200 media cetak baru bermunculan dan lebih dari 900 radio komersil (lebih banyak berlokasi di Jakarta) serta 5 stasiun televisi baru.

Pertanyaannya adalah media yang banyak itu adalah punya siapa? Pertanyaan ini penting bagi kita untuk memberikan sebuah gambaran ke mana arah sebuah arus pemberitaan selama ini. Apakah berimbang ataukah cenderung berbaur dengan kepentingan bisnis atau bahkan sudah bercampur dengan oleh kepentingan politik?. Menurut Merlina Lim, dalam penelitiannya yang dipublish pada tahun 2012, media massa di Indonesia dikuasai oleh 13 Grup saja. Satu diantaranya dikuasai oleh Negara. Selebihnya milik konglomerasi (Gabungan Konglomerat). 12 grup ini telah menguasai dan mengontrol 100 % bisnis jasa (komersialiasi) pertelevisian di Tanah air. Mereka menguasai 5 dari 6 surat kabar dengan tiras/oplah terbesar. 4 Grup yang menguasai media online terpopuler. Juga radio yang dominan berada di Jakarta. Selain itu, mereka menguasai bisnis TV Digital (berbayar) dan bisnis lainnya seperti telekomunikasi, Teknologi Informasi dan layanan produksi, distribusi berbagai konten media marketing lainnya.
Perusahaan media (grup 13) ini, juga melebarkan sayapnya dalam di Industri Non-Media yang membuat mereka seperti gurita yang memiliki kontrol bisnis dan politik yang luas di Indonesia. Diantara grup ini, ada pemain lama seperti Kompas Gramedia dan Jawa Pos. mereka pernah menjadi sasaran politik orde baru waktu itu. Kenyataan yang tidak bisa dipungkiri adalah beberapa media tersebut terkait secara langsung atau tidak langsung dengan Lingkaran politik. Sebut saja diantaranya Media Group pimpinan Surya Paloh (dahulu sebagai penasehat Partai Golkar dan sekarang menjadi Penasehat Partai Nasdem). Kemudian ada Bakrie & Brothers (TV One dan AN TV) milik Abu Rizal Bakrie (ketua Umum Partai Golkar).
Fakta lainnya, ada satu Grup, yang meskipun secara tidak langsung terkait dengan politik namun salah satu tokohnya, Theo L. Sambuaga, Tokoh Golkar memiliki jabatan penting sebagai Presiden di Grup Lippo. Perusahan milik James Riady ini juga ikut meramaikan bisnis Media di Indonesia.
Selain itu, pemain lainnya adalah Trans Corporation (Trans TV dan Trans 7) milik Chairul Tanjung yang dikenal dekat dengan penasehat partai Demokrat Susilo Bambang Yudoyono. Meskipun kita tahu, CT (panggilan Chairul Tanjung) tidak berafiliasi langsung dengan partai Politik tertentu). Sosok lainnya, Hary Tanoesoedibyo pemilik MNC Group (RCTI, MNC TV, Global TV) sekarang membuat kendaraan politik sendiri yang bernama Partai Perindo. Sebelumnya, Hary bergabung dengan Partai Hanura, partai yang didirikan oleh Wiranto. Yang menarik adalah Grup Tempo (Majalah dan surat Kabar) yang didirikan oleh Gunawan Muhammad. Tempo, adalah satu-satunya media Non Konglomerasi yang mampu bertahan dalam persaingan ketat dalam bisnis media mainstream di Indonesia. Tempo juga sejauh ini independent dalam politik.
Dengan kondisi yang digambarkan di atas, masyarakat Indonesia akan dihadapkan kenyataan pada kualitas pemberitaan yang diekspos oleh hanya beberapa atau segelintir pemilik modal dan yang beberapa diantaranya memiliki latar belakang politik. Benturan kepentingan bisa saja terjadi. Dalam ilmu komunikasi massa, salah satu hambatan dalam komunikasi massa adalah adanya interest (kepentingan). Hambatan ini bisa mengakibatkan Masyarakat sebagai komunikan tidak memperoleh kualitas informasi yang utuh dan memadai.

Bagaimana peta Media Online di Indonesia? Internet sudah menjadi bagian penting dalam masyarakat Indonesia. Salah satunya adalah web. Website kini menjadi sumber informasi terbesar yang menjadi rujukan sebagian besar masyarakat dewasa ini. Website banyak dimiliki oleh orang per orang, berbeda dengan media massa lainnya. kepemilikannya tidak terkonsentrasi pada satu grup semata, tapi merata. Meskipun begitu, ada beberapa website berita yang dikuasai oleh Grup 13 tadi. Fakta menarik, Kaskus (forum komunitas Indonesia) masuk 6 besar dari 10 website yang paling sering dikunjungi di Indonesia. Selain Facebook dan Google. Detik masih menjadi pilihan utama akses informasi masyakat Indonesia. Kemudian berturut-turut di bawahnya kompas.com, vivanews.com, okenews.com dan lintas berita.com. Blog sudah menjadi penyeimbang informasi dari media mainstream meskipun belum signifikan, Blog yang sudah punya nama antara lain Ndorokakung.com, Akhdian.com, Isnuansa.com,Bloggombal.com, Jimnysun.com, nazieb.com dan radityaadika.com.

Berikut Data yang dipublish tahun 2012 oleh Merlyna Lim dalam Jurnal penelitianya berjudul The League of Thirteen, Media Concentration in Indonesia.
Media Nusantara Citra (MNC) Group (Hary Tanoesoedibjo)
1.      RCTI, Global TV, MNCTV (ex TPI)
2.      Indovision, Sky Vision, SINDO tv network
3.       Sindo Radio (Trijaya FM), Radio Dangdut, ARH Global Radio
4.       Seputar Indonesia (Koran Sindo)
5.       High End magz, Genie, Mom & Kiddie tabloids
6.       okezone.com, seputar Indonesia.com, Sindonews.com
7.      IT, content production and distributions, talent management, automobile


Mahaka Media Group (Erick Tohir)
1.      Jak TV, Alif TV
2.      JakFM, Prambors FM, Delta FM, Female, Gen FM
3.       Republika, Harian Indonesia (in Mandarin) Parents Indonesia, A+, GolfDigest, Area, magazines
4.      Republika Online,rileks.com,Rajakarcis.com, Entertainment, outdoor advertisement
Kompas Gramedia Group (Jakob Oetama,Agung Adiprasetyo)
1.      Kompas TV network
2.      Sonora Radio network, Otomotion Radio, Motion FM, Eltira
3.      FM Kompas, Jakarta Post,Warta Kota, + other 11 local papersIntisari + 43 magazines &tabloids, 5 book publishers Kompas Cyber Media, Hotels, public relation agencies, university & telecommunication tower (in plan)

Jawa Pos Group (Dahlan Iskan)
1.      JPMC network Fajar FM (Makassar)
2.      Jawa Pos, Indo Pos
3.      Rakyat Merdeka, Radar + others (total: 151)Mentari, Libertymagazines + 11 tabloids
4.      Jawa Pos Digital Edition
5.      Travel bureau, power plant
Media Bali Post Group (KMB) (Satria Narada)
1.      Bali TV network, Jogja TV,Semarang TV,Sriwijaya TV, +others (total: 9)
2.      Global Kini Jani, GentaFM. Global FM,Lombok FM, Fajar FM,
3.      Suara Besakih, Singaraja FM, Nagara FM
4.      Bali Post, Bisnis Bali, Suluh Indonesia, Harian Denpost, & Suara NTB Tokoh, Lintang, & Wiyata Mandala tabloids
5.       Bali Post, Bisnis Bali
Elang Mahkota Teknologi (EMTEK) Group (Eddy Kusnadi Sariaatmadja)
1.      SCTV
2.      Indosiar, O’Channel,
3.      ElShinta TV, Elshinta FM —Elshinta, Gaul, Story, Kort, Mamamia,Wireless broadband, pay‐TV, telecommunications, banking, IT solutions, production house
Lippo Group (James Riady)
1.      First Media, Berita Satu TV
2.      Jakarta Globe, Investor Daily, Suara Pembaruan Investor, Globe Asia, &Campus Asia magazines Jakarta Globe Online Property, hospital, education, insurance

Bakrie & Brothers (Visi Media Asia) (Anindya Bakrie)
1.      antv, TVOne Channel [V] — — — VIVAnews
2.       Telecommunications, property, metal, oil & gas, agribusiness, coal, physical infrastructure
Femina Group (Pia Alisyahbana,Mirta Kartohadiprodjo)
1.      U‐FM Jakarta & Bandung
2.      Femina, Gadis, Dewi, Ayahbunda + others (total:15) FeminaGitaCinta, Ayahbunda,Gadis, Parenting Online Production house, event management, boutique, education, printing
Media Group (Surya Paloh)
1.      Metro TV
2.      Media Indonesia,
3.       Lampung Post, BorneoNews
4.      Media Indonesia Online
Mugi Reka Abadi (MRA) Group (Dian Muljani Soedarjo)
1.      O’Channel
2.      Cosmopolitan FM, Hard Rock FM, IRadio, Trax FM
3.      Cosmopolitan, Cosmogirl, Fitness + others (total: 16) Holder of several international boutique brands
Trans Corpora (Para Group) (Chairul Tanjung)
1.      Trans TV
2.      Trans 7
3.      Detik Online,
4.      Banking, venture capital, insurance, theme parks, resort, retail, cinem
Yang menjadi catatan adalah, penelitian ini dilaksanakan pada tahun 2012. Sekarang sudah tahun 2015, pasti akan perubahan dan perlu penelitian lanjutan. Meskipun begitu, penelitian yang di lakukan oleh Merlyna Lim patut diapreseasi karena memberikan sebuah landasan sudut pandang bagi masyarakat umum atau bahkan pengambil kebijakan di negeri ini.